Mendidik Anak Shalat Ala Rosulullah

Manusia itu tumbuh melalui beberapa fase kehidupan.
Fase pertama dimulai dari anak kecil yang belum mumayyiz. Sebagian ahli fiqih berpendapat tentang anak pada usia ini yaitu: seorang anak yang belum bisa membedakan antara kurma dan bara api, begitu juga antara kebaikan dan keburukan. Maka anak pada usia ini tidak dibebani dengan kewajiban apapun.

Namun, jika anak itu melakukan suatu kebaikan maka hendaknya kita membimbingnya. Apabila kita mendapatinya mampu menghafal ayat-ayat al-Quran, maka kita bantu proses menghafalnya. Jika kita dapati ia suka melaksanakan sholat, maka jangan melarangnya tapi hendaknya kita memotivasinya untuk senantiasa mengerjakannya. Akan tetapi, kita tidak boleh menyuruhnya pada fase ini karena mereka belum termasuk dalam kategori orang-orang yang diperintahkan.

Fase selanjutnya adalah Usia Tamyiz. Sebagian ulama fiqih berpendapat bahwa tidak ada batasan usia pada fase ini, tetapi dapat diketahui melalui sikapnya. Jika ia mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang memabawa mudhorot.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa fase Tamyiz dimulai pada usia tujuh tahun dan pendapat ini lebih mendekati pada kebenaran. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)! (hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187)

Dan ini merupakan perintah yang penuh dengan kelembutan, kebaikan, petunjuk serta dorongan untuk mengerjakan sesuatu tanpa adanya ancaman.

Seperti; Ayo kita sholat nak! Apabila kamu sholat maka kamu akan mendapatkan sesuatu dari Allah. Jika kamu sholat maka Allah akan memasukkanmu ke surga, dan di surga terdapat nikmat seperti ini dan itu. Contoh seperti ini sangat penting sekali saudaraku, sungguh sangat penting.

Jangan biasakan anak-anak kita beribadah karena mengharap dunia. Suatu kesalahan besar yang engkau tanamkan dalam diri anak-anak, jika mereka beribadah kepada Allah hanya mengharapkan dunia semata. Seperti kebanyakan orang ucapkan: Sholatlah nak, nanti aku kasih satu dirham. Sholatlah nak, nanti aku kasih sepuluh dirham. Sholatlah, nanti aku ajak ke suatu tempat. Ungkapan-ungkapan itu akan menumbuhkan dalam diri anak cinta dunia. Akan tetapi, jadikan surga dan keridhoan Allah sebagai tujuan dari ibadah anak-anak kita. Dan hendaknya kita mengatakan kepadanya, mungkin saja jika kamu sholat Allah akan memberi rizki kepada saya dan saya akan memberimu sepuluh dirham. Mungkin saja jika kamu sholat, Allah mudahkan saya untuk mengajakmu pergi ke suatu tempat. Maka segala sesuatu kaitkan dengan Allah karena mereka adalah anak-anak kecil yang selalu belajar. Dan ini sangat penting sekali dalam mendidik keimanan untuk menanamkan keikhlasan dalam hati dan ketergantungan kepada Allah. Oleh karena itu, kita mendapatkan sebagian anak kecil tidak berbohong. Dan apabila kamu tanyakan kenapa alasannya? mereka akan menjawab: Berbohong akan menghantarkan seseorang kedalam neraka.

Didiklah anak-anak kalian atas dasar ini dan pendidikan ini akan selalu membekas dalam dirinya. Tetapi jika kalian katakan: Jangan berbohong nanti saya marah padamu. Maka ketika ia jauh darimu ia tidak akan takut untuk berbohong, hal ini sangat perlu diperhatikan bagi seluruh orangtua.

Maka dapat kita simpulkan dari pembahasan di atas bahwa usia tujuh tahun adalah waktu memerintahkan anak sholat dengan anjuran tanpa ancaman, pukulan, celaan, hinaan ataupun hukuman lainya sampai usia mereka sepuluh tahun. Selama tiga tahun tersebut, wajib bagi orang tua untuk memerintahkannya sholat. Meskipun secara hukum belum wajib baginya. Dengan kata lain, jika kita tidak memerintahkannya sholat maka kita berdosa. Tapi jika anak tidak mengerjakan sholat maka ia tidak berdosa.

Kewajiban memerintahkan anak sholat ini hendaknya dilakukan secara terus menerus sampai usianya sepuluh tahun. Dan apabila usianya sudah sampai sepuluh tahun, sholat tetap belum diwajibkan atasnya dan mereka tidak berdosa ketika meninggalkannya. Tetapi, orangtua berhak memukul ababila usianya sampai sepuluh tahun namun mereka tidak melaksanakannya. Hal itu dilakukan agar mereka terbiasa melaksanakan sholat ketika sudah dewasa nanti.

Dari usia sepuluh tahun sampai usia baligh dimulailah hukuman (ancaman). Diantara hukuman itu bisa berupa pukulan. Sehingga mereka konsisten dalam menjalankan sholat.

Inilah petunjuk Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam tentang mendidik anak sholat.


(Diambil dari video muhadhoroh Syeikh Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili)
https://www.youtube.com/watch?v=yjsZE9pRmTY )
Cirebon, 2 Ramadhan 1441 / 24 April 2020

Oleh: Ustadz Idris Kalim Kamsuri, Lc. Hafizhohullohu
Kembali ke Berita...

Jl. Sekar Kemuning No. 5, RT/RW 01/13, Kel. Kec. Kesambi, Karyamulya, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45135

Chat Me:

wa chat.png

Follow Us:

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram