Adab-adab Membaca Al Qur'an

بسم الله الرحمن الرحيم

Faidah dari buku Mencetak Hafidz Cilik karya Abu Raihan-Ummu Raihan (Hafidzahumallah)

Imam An Nawawi di dalam kitabnya At-Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an menyebutkan beberapa adab dan hukum dalam membaca Al-Qur’an:
1. Ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah ﷻ dan menyadari bahwasannya ia sedang berkomunikasi dengan Allah ﷻ.

2. Menjaga kebersihan mulutnya dengan siwak atau sejenisnya.

3. Diutamakan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci.

4. Hendaknya membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih dan lebih utamanya di masjid.

5. Hendaknya menghadap kiblat dan duduk dengan tenang.

6. Memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca ta’awudz.

7. Membaca basmalah di setiap awal surat, kecuali surat Bara’ah (At-Taubah). Demikian yang dikatakan oleh jumhur ulama.

8. Khusyu’ dan merenungkan maknanya, firman Allah ﷻ:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ
“Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya…” (QS. Shaad: 29)

9. Menghadirkan perasaan takut kepada Allah ﷻ saat membacanya. Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupakan sifat orang-orang arif dan syiar hamba-hamba Allah ﷻ yang shalih.

10. Membacanya dengan tartil, berdasarkan firman Allah ﷻ:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا…
“…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).” (QS. Muzammil:4)

11. Disunnahkan meminta karunia dari Allah ﷻ saat selesai membaca ayat-ayat tentang rahmat Allah ﷻ, memohon perlindungan dari siksa apabila selesai membaca ayat-ayat tentang adzab, dan bertasbih apabila melewat ayat-ayat tentang pensucian Allah ﷻ.

12. Menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi sikap hormat terhadap Al-Qur’an, seperti tertawa pada saat membacanya, dll. Berdasarkan firman Allah ﷻ:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)

13. Tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab.

14. Tidak boleh membaca Al-Qur’an kecuali dengan qira’at as sab’ah (bacaan yang tujuh) yang mutawatir, dan hendaknya tidak mencampur adukkannya.

15. Hendaknya membaca sesuai urutannya di mushaf.

16. Membaca dengan melihat mushaf lebih utama ketika di luar shalat, kecuali jika lebih merasa khusyu’ dengan hafalannya.

17. Disunnahkan membuat halaqah dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
مَا اجٌتَمَعَ قَومُ فيِ بَيتٍ مِن بُيُوتِ اللٌهِ يَتلُونَ كتَابَ اللٌهِ وَيَتَدَا رَسُونَه فِيمَا بَيْنَهُم إلا نَزَلتْ عليْهمُ السَكِينَةُ وَغَشِيتهُمُ الرَّحمةُ وَحَفَتهمُ الملآئكةُ وَذَكَرَهُمُ اللٌهُ فِيمَن عِندَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, melainkan diturunkan ke atas mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi mahluk yang dimuliakanNya.” (HR Muslim)

18. Disunnahkan membaca dengan mengeraskan suara selama tidak khawatir riya’ dan tidak mengganggu orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah al-Quran dengan suara kalian.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, no. 7544; fathul bari, 3/527)

19. Disunnahkan minta dibacakan Al-Qur’an dari orang yang bersuara bagus, sebagaimana nabi ﷺ:
«ﺍﻗْﺮَﺃْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ»َ ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻘُﻠْﺖُ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ‍ ﺃَﻗْﺮَﺃُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ؟ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃُﻧْﺰِﻝَ؟ ﻗَﺎﻝَ: ‏«ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺷْﺘَﻬِﻲ ﺃَﻥْ ﺃَﺳْﻤَﻌَﻪُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﻱ‏» ﻓَﻘَﺮَﺃْﺕُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐْﺖُ: { ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﺇِﺫَﺍ ﺟِﺌْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺑِﺸَﻬِﻴﺪٍ ﻭَﺟِﺌْﻨَﺎ ﺑِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ}. ﺭَﻓَﻌْﺖُ ﺭَﺃْﺳِﻲ، ﺃَﻭْ ﻏَﻤَﺰَﻧِﻲ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﻨْﺒِﻲ، ﻓَﺮَﻓَﻌْﺖُ ﺭَﺃْﺳِﻲ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺩُﻣُﻮﻋَﻪُ ﺗَﺴِﻴﻞُ
“Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.” Abdullah ibnu Mas’ud berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku”, Maka aku pun membacakan surat an-Nisa’, ketika sampai pada ayat (yang artinya), “Bagaimanakah jika (pada hari kiamat nanti) Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.” ( QS. an-Nisa’: 41 ).
Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir.”

20. Makruh membaca Al-Qur’an pada kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika ruku’, sujud, dan yang lainnya ketika sedang shalat, kecuali saat berdiri. Dan bagi makmum, dimakruhkan membaca Al-Qur’an lebih dari surat Al-Fatihah apabila dia mendengar bacaan imam. Juga dimakruhkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan mengantuk dan ketika sedang mendengarkan khutbah.

21. Dilarang mengkhususkan membaca ayat-ayat tertentu pada saat-saat tertentu, kecuali ada dalil yang menerangkannya.

22. Apabila ada seseorang yang memberikan salam kepada orang yang sedang membaca Al-Qur’an, hendaklah ia hentikan bacaannya dan menjawab salam tersebut. Apabila ia mendengar orang yang bersin mengucapkan “Alhamdulillah”, maka hendaknya ia menjawabnya dengan “yarhamukallah”. Demikian pula apabila ia mendengar adzan, maka hendaknya ia hentikan dan menjawab adzan yang dikumandangkan.

23. Disyari’atkan untuk bersujud apabila melewati ayat-ayat sajdah.

Yayasan Sabilul Qur'an
Kembali ke Berita...

Jl. Sekar Kemuning No. 5, RT/RW 01/13, Kel. Kec. Kesambi, Karyamulya, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45135

Chat Me:

wa chat.png

Follow Us:

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram